Being Interviewer

Baru-baru ini gw diberi kepercayaan di Kantor, untuk menjadi “Team Leader”, di sebuah bagian baru yang masih bernaung di bawah divisi, tempat selama ini gw bekerja. Bagian ini masih benar-benar baru, sehingga segala hal nya mesti di mulai dari ‘nol’ . sebelum lebih jauh, pada posting blog ini, saya tidak akan menjelaskan bagian atau jenis pekerjaan yang saya ceritakan ini ya.

Bagian ini masih baru, dan benar-benar baru dimulai dari ‘nol’, maka beberapa personil nya juga masih baru yang harus dimasuk kan dalam team. Which is gw sebagai team leader, harus pula menyeleksi dan me-wawancara calon pegawai yang juga calon anggota team yang akan masuk dan bekerja bersama gw.

Pengalaman me-wawancara ini merupakan pengalaman baru bagi gw, untuk berusaha melihat dan memahami mengenai karakter dan pribadi seseorang dalam sebuah komunikasi Interpersonal. Dan juga untuk belajar juga pastinya. Jujur, gw pribadi tidak mencari orang yang punya kualifikasi pendidikan yang sangat baik untuk jadi anggota team gw, tapi gw mencari orang yang punya “3 MAU”:

  1. MAU dengan pekerjaan ini
  2. MAU belajar dan bekerja keras
  3. MAU bekerja dengan tim dan bisa membaur dengan tim (baik dalam suasana serius ataupun fun)

itu syarat utama buat diterima, kalau untuk yang mungkin belum bisa gw terima, itu gw biasanya sebisa mungkin tidak menerima orang yang: Over Qualified atau Gw rasa lebih cocok untuk di pekerjaan lain (atau kasar nya, sayang potensi dia, terlalu bagus untuk kerja di tempat ini), orang yang terlalu “FAKE”, Orang yang terlalu santai dan selengean, orang yang terlalu kaku dan pendiam dan (maaf) orang yang gw rasa Lemot (cuma modal cantik/ganteng doang atau bahkan terlalu pemalu sehingga seakan dia tidak tau apa-apa) dan banyak pertimbangan lain.

dari beberapa interviewee yang sudah gw wawancara, gw menemukan beberapa kriteria yang sesuai untuk kandidat yang  belum bisa gw rekomendasikan untuk gw terima, seperti:

1. ada seseorang yang memiliki pengalaman kerja lama di perusahaan IT, dengan posisi lumayan dan gaji yang bagus. Lalu kata dia alasan dia keluar, karena dia mau buka usaha yang kebetulan usaha yang dia jalani, sama dengan jenis usaha di perusahaan tempat terakhir dia bekerja. Pada saat dia mengatakan hal itu, jujur gw udah merasa ada yang salah pada orang ini.

lalu gw tanya “kalau emang begitu kenapa, terus ngelamar disini? nggak diseriusin aja usaha nya?” , dia jawab “saya mau kerja disini, supaya bisa mengumpulkan modal buat membuka usaha selanjut nya.” . Gw semakin aneh, karena kerja disini sesungguhnya membuat dia memiliki pendapatan yang lebih rendah daripada kerja sebelum nya, kenapa dia tidak stay aja.

lalu gw tanya “kalau nanti kerja disini, berarti nanti usaha nya terbengkalai dong?” dia jawab “usaha nya kan cuma buat sampingan aja, fokus utama nya tetap disini”, gw tanya lagi “kalau emang cuma buat “iseng-iseng doang” usaha nya, kenapa mesti keluar di perusahaan sebelum nya, kan sayang” terus gw tanya lagi “kenapa tidak coba di perusahaan IT lain nya?” lalu dia mulai berkilah, memberi alasan berbagai hal, yang justru, semakin dia memberi jawaban, semakin yakin gw kalau dia ini FAKE, banyak bohong  dan tidak meyakinkan.

2. Ada juga interviewee lain, yang sebenarnya cukup mumpuni CV nya. Di saat wawancara dia cerita tentang pengalaman nya menjadi anggota Marching Band yang sudah manggung di beberapa daerah di Indonesia, dan bahkan sudah sampai perform di Malaysia. Lalu gw mencoba men-cek di Formulir wawancara yang dia tulis, ternyata informasi mengenai kegiatan Marching Band nya itu tidak dia tulis di form, gw tanyalah,pada dia, kenapa?

tahu apa jawaban dia, ini: “Saya Pikir Pengalaman di Marching Band ini Bukan Hal Yang penting untuk diceritakan pada Bapak dan pasti Bapak tidak tahu juga kan?”

“WOW” kata gw. sebuah pengalaman yang sudah membuat dia sudah membuat dia keliling Indonesia dan Sampai ke Luar Negeri dianggap bukan hal yang cukup “penting dan membanggakan” bagi dia, untuk diceritakan.

Pada saat itu gw menarik kesimpulan, bahwa orang ini adalah tipe orang yang suka menyepelekan sesuatu. Gw khawatir, pada saat dia bekerja, dan dirasa ada pekerjaan yang kecil atau tidak signifikan akan dianggap tidak penting oleh dia.

Orang Yang Menganggap Setiap Prestasi di Hidup nya, sebagai hal yang tidak penting. Adalah orang yang tidak bersyukur pada Tuhan atas kesempatan yang diberikan pada nya, yang belum tentu semua orang bisa dapatkan. Sayang.

Lalu gw cerita aja sama dia, kalau gw cukup tau tentang Marching Band, Teman gw di UNPAD yang tiap tahun ikut lomba Marching band di Senayan dimana gw pernah menonton dan support langsung, atau Prestasi Marching Band Tarakanita dan Garuda Indonesia. Juga betapa “keren” nya menurut gw, barisan Marching Band di Upacara Kenegaraan. Pada saat gw cerita itu, dia cuma diam.

3. Untuk cerita orang yang ketiga ini, cukup berkesan buat gw, seseorang yang membuat gw berkaca dan belajar suatu   hal penting mengenai, kehidupan Berkeluarga dan Pernikahan.

Jadi begini cerita nya, ada seseorang pemuda, cukup tampan, dia berumur 26 tahun, sama seperti gw, dan sudah ber-keluarga dengan 1 anak. Datang lah dia untuk di wawancara, pembawaan nya cukup santai, dia memakai jeans dan kemeja kotak-kotak lengan pendek. Cara dia berbicara dan berkomunikasi dan ngobrol cukup seru. Prestasi akademis nya juga lumayan.

He’s a Chef. Chef di Hotel Sultan tepatnya. Sebuah pekerjaan yang sudah cukup bagus, mengingat dia juga lulusan Sekolah Perhotelan, dan memulai dari bawah sekali. Dimana dia memulai dari menjadi Juru masak di McDonalds hingga bisa setinggi sekarang karir nya. Plus, Chef adalah passion dia, hal ini gw ketahui, pada saat gw menanyakan soal “Passion” ke dia.

Lalu kenapa dia mau keluar, ternyata karena faktor keluarga. Istri nya baru saja diangkat menjadi GM di Deutche Bank, which is itu membuat si istri kesulitan membagi waktu untuk merawat anak nya yang baru berusia 2 tahun. Hal itu membuat si Pemuda ini, yang pekerjaan nya sebagai Chef juga memakan waktu, meninggalkan pekerjaan, passion (dan hidup nya-menurut gw) sebagai Chef demi merawat anak nya yang masih kecil dan mencari pekerjaan yang waktunya 9 to 5, dan MENGALAH.. sekali lagi MENGALAH pada si istri.

Gw jujur miris dengan cerita nya. Sebagian dari diri gw, iri dengan dia yang bisa bekerja sesuai passion nya, tapi sebagian dari diri gw merasa bersyukur juga tidak menjalani dilema hidup seperti yang dia jalani sekarang. Kehidupan berkeluarga terkadang bisa menjadi sangat rumit, justru saat kita menutup mata pada teori-teori mengenai pernikahan bahagia, menyingkirkan petuah-petuah bijak dan melihat pada satu hal pasti yaitu Kenyataan dalam Pernikahan itu tidak se-simple ini:

Pesta Pernikahan –> Menjalani keluarga dengan anak cucu –> Meninggal dengan senyum di pipi di tengah keluarga yang mencintai kita.

Pada saat me-wawancara dia, gw memutuskan menggunakan bahasa yang casual saja, karena biar dia bisa lebih santai dalam menceritakan mengenai hidupnya. memakai elo-gw dan bercanda sesekali saat wawancara. gw nanya ke dia, “yakin elo mau ninggalin passion elo, sebagai chef yang udah susah payah elo bangun, dari bawah?” , lalu dia jawab “gimana ya, kadang hati kecil gw, ingin tetap idealis bekerja di bidang yang gw suka ini, tapi gimana ya, kadang hidup kalau terlalu idealis, yang ada kita diperas oleh kehidupan itu sendiri. Pada saat kita berkeluarga dan bertanggung jawab bukan untuk diri sendiri tapi untuk orang lain, ada hal-hal yang harus lebih kita pikirkan dibanding idealisme kita sendiri” itu jawab dia.

Saat dia menjawab itu, jujur gw jadi berpikir. Betapa kehidupan itu bisa “mengerjain” kita, sehingga membuat sesuatu yang harus nya lancar tanpa kendala menjadi ribet. Hidup nya pasti terlihat sudah lancar-lancar saja, bekerja dengan posisi bagus dan sesuai passion, sudah menikah dan memiliki anak di usia muda, tapi ada saja kendala, dan yang membuat hal ini menjadi ‘ribet’ adalah suatu hal sakral yang bernama PERNIKAHAN.

Melihat pemuda ini, membuat gw move on dari kisah percintaan gw, yang baru saja kandas. Dalam pengertian seperti ini, gw putus dari pacaran, sedih sih,karena jujur gw cinta banget sama cewek gw yang terakhir itu,  tapi apa gw yakin gw bisa bikin dia bahagia selama ini. Dan jika muara nya adalah pernikahan, apakah yakin Gw siap menjalani kehidupan Pernikahan yang tidak selalu se-indah di Dongeng. Memang harus siap, tapi seperti nya belum sekarang. Liat saja contoh nya si Pemuda yang gw wawancara ini, Pernikahan membuat dia harus berkorban dan bertanggung jawab penuh atas janji suci yang sudah dia ikrar kan. Gw belajar mengenai tanggung jawab disini. HUGHES RESPONSIBILITY.

Di Akhir wawancara, setelah berbicara banyak mengenai banyak hal, terutama job desk yang dia akan jalani jika diterima di kantor gw, gw tanya “sekali lagi ya, elo yakin mau tinggalin kerjaan elo yang udah enak banget itu, dan cuma buat  jadi anak buah gw ?” Gw dan dia tertawa bersamaan. dan gw akhiri wawancara itu dengan memberi pesan ini, “Man, mending elo pikirkan lagi pilihan hidup elo, sebelum ninggalin kerjaan elo sebagai Chef di Hotel Sultan. Gw yakin masalah elo saat ini ada jalan keluar nya, dan seperti nya Bekerja di sini(kantor gw) bukan jalan keluar nya”

Dia hanya berkata singkat “Terimakasih ya, Mas”,

dalam hati gw menjawab “Gw yang lebih terimakasih”

ke-tiga wawancara itu, menjadi sampel saja, dari beberapa wawancara yang berkesan bagi gw, masih ada sih, yang bisa gw inget, seperti contoh nya, interview gw dengan seorang wanita, Fresh Graduate, yang sepanjang wawancara, nunduk terus, suara pelan, sampe-sampe gw ngerasa gak pede, jangan-jangan dia tidak mau liat gw, karena di gigi gw ada cabe nyangkut. Lalu dia mengatakan hobi dia Internetan, gw tanya kegiatan kampus, dia jawab “tidak ada, sepulang kuliah langsung pulang terus internet-an”, kegiatan di luar kampus, dia jawab :”tidak ada, dirumah aja paling, internet-an”. curiga kalau gw tanya punya pacar tidak, dia nanti jawab: “kalo pacar saya punya dong, itu PENJAGA WARNET”. yasallam.

Gw juga ada wawancara dengan dua orang, yang juga  sudah memiliki anak, yang kontrak kerja sebelum nya, di kantor nya tidak diperpanjang secara se-pihak. Hal ini yang membuat gw berpikir, bahwa sistem kepegawaian di perusahaan-perusahaan itu parah juga ya. Disatu sisi ingin membantu, tapi di sisi lain, gw merasa, mereka deserve, kesempatan kerja yang lebih baik. Dan melihat umur mereka yang sudah cukup dewasa, gw takut mereka nanti tidak bisa membaur dengan anggota team yang lain yang lebih muda.

Me-wawancara itu serumit Di-wawancara, Diwawancara itu rumit nya karena kita mesti menenangkan diri supaya tampil tenang dan bisa menjual diri kita pada sang interview-er. Namun untuk Me-wawancara itu rumit nya, karena kita harus memilih dari sekian banyak kandidat, yang cocok buat suatu posisi. Dan itu membutuhkan banyak pertimbangan dari berbagai aspek. Gw juga sedang mencoba, melamar-lamar lagi untuk kerjaan baru (doain ya, biar segera dapat kerjaan yang lebih baik), jadi kadang-kadang saat me-wawancara orang, selalu ada sisi empati dari gw kepada sang pelamar, untuk bisa membantu mereka, karena gw juga ingin terbantu saat melamar kerja berikutnya. Tapi ya bagaimana pun, tak semua nya bisa di terima toh.

Pada akhirnya, mewawancarai calon anggota tim buat gw ini, suatu pengalaman baru yang menyenangkan. Jika pada saat nya semua anggota tim sudah terkumpul, gw bisa memimpin sebuah tim yang solid, yang bisa serius bersama gw namun di sisi lain bisa tertawa juga bersama gw. Dan sama-sama bekerja keras demi mencapai hasil kerja yang terbaik. Gw sebagai Team leader akan pasang badan atas segala kesalahan teman-teman gw ini dan meng-appreciate setiap keberhasilan pekerjaan teman-teman gw itu, tapi di sisi lain, mereka juga harus melakukan yang terbaik dalam bekerja, demi kelancaran pekerjaan Tim, Kantor dan kepuasan diri mereka sendiri. Bukan buat gw.

Hingga saat ini, hasil rekrutan dan wawancara baru berhasil mengumpulkan jumlah wanita yang cukup. Untuk yang pria, sampai saat ini, yang gw wawancara baru lolos SATU orang. Selain, dua cowok yang sudah lebih dulu masuk, tapi bukan gw yang wawancara.

So, tampaknya proses wawancara masih akan terus berlanjut buat gw, dan semoga bisa bertemu dengan orang-orang handal bagi tim dan mendapat cerita-cerita baru lain nya.

The End

nb: Doain ya, biar gw dapat pekerjaan yang lebih baik, secepat nya.🙂

Support Machine :)

Ditulis dalam Merenung, Modified by a true Dialog, Random Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Tanggalan
November 2011
S S R K J S M
« Okt   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d blogger menyukai ini: