Tulus dan Mbak Yul

Gw baru saja bertemu teman baru, namanya Yuli Kade , Anaknya cantik, kurus, rame dan pake gigi kawat. Yuli ini sebenarnya adalah teman dari teman-teman Gw yang lain, tapi karena anaknya rame dan seru jadi tidak susah buat Gw untuk ngobrol dengan dia.

Di hari Gw bertemu pertama kali dengan Yuli, Gw sempet ngobrol lumayan panjang dengan dia, kebetulan kita sempat sama-sama menunggu bus di jam pulang kantor. Dari semua perbincangan yang Gw lakukan dengan Yuli, ada sebuah kalimat dari dia yang menggelitik Gw. Begini kata si Yuli :

“Gw emang nggak tau jalan dan nggak tau dimana daerah rumah Gw, tapi yang penting Gw tau rumah Gw dimana.”

Sebuah pernyataan yang lucu, menurut Gw.

Tidak lama setelah dia melontarkan pernyataan yang bikin Gw tersenyum kecil itu, dia menanyakan pertanyaan lagi:

“Elo pulang naik apa ?

“Gw naik Busway sepertinya, kalau elo ?” Ujar Gw

“Kalau Gw bisa naik Busway, bisa naik Patas 16, Patas 11, Patas 76, 213 pokoknya apa aja deh yang penting bisa cepat nyampe rumah, soalnya Gw nggak diijinin pulang malam”

Setelah mendengar jawaban si Yuli, Gw lumayan kagum mengetahui bahwa jumlah kendaraan dan trayek angkutan umum yang bisa mengantar Yuli ke rumahnya ternyata lebih banyak dari jumlah mantan pacar si Yuli (informasi aja, mantan pacar si Yuli itu jumlahnya masuk kategori bilangan bulat negatif. Lah Kok bisa ? Ya bisa lah, kan mantan-nya Yuli kelakuan nya Minus semua – red) *becanda Yulay*.

Menunggu bis dengan Yuli saat itu berlangsung cukup lama, dan membuat Gw bisa melihat berbagai macam kondisi bis angkutan umum di jam pulang kerja, yang bisa dikatakan lumayan kacrut.

Dari pengamatan sekilas itu, Gw bisa mengambil kesimpulan bahwa angkutan umum di Jakarta itu bisa dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Alat Transportasi Layak : Angkutan umum yang seharusnya bisa menjadi sarana transportasi yang layak, nyaman, aman, efisien dan integratif bagi warga Jakarta. Bagi Gw, angkutan umum seperti itu belum ada, kalaupun ada mungkin beberapa armada Taxi, itupun mahal dan terkadang tidak aman.

2. Kehidupan : Trans Jakarta, Kereta Api AC.

3. Kehidupan Yang Penuh Perjuangan : KRL, Patas AC atau Non AC , Metro Mini, Kopaja, Mikrolet, Ojek, Bajaj terutama di saat jam pulang kerja yang biasanya macet parah di Jakarta.

Untuk poin 1, tidak perlu dijabarkan ya, karena sudah cukup jelas. Sekarang saya akan jabarkan terlebih dahulu poin 2. Mengapa Trans Jakarta dan Patas AC masuk kategori “Kehidupan” ?

Apa sih keluhan kamu jika akan menggunakan sarana transportasi Trans Jakarta dan Kereta AC ? (Selanjutnya, contoh hanya akan menggunakan Trans Jakarta saja)

Antri lama, Berdesakan di Bis walau ber-AC, Bertemu dengan orang egois yang suka menghalangi pintu atau aksi rebut-rebutan bangku kosong dan kemarahan pada mobil atau motor yang menggunakan jalur Busway dan membuat bis Trans Jakarta yang dinaiki terhambat.

Kehidupan juga seperti itu kan, Antri lama saat kita sedang menanti sesuatu yang kita harapkan dan doakan bertahun-tahun, mengalami senggolan dan gesekan dengan orang lain baik dalam kehidupan pertemanan, pekerjaan, sosial dan lain-lain, bertemu orang-orang egois yang membuat kita harus lebih sabar, berebut untuk mendapatkan sesuatu dan menjadi lebih unggul daripada yang lain atau bahkan berteriak marah saat berada dalam situasi dimana ada sekelompok orang atau lembaga yang bertindak semena-mena dan merebut sesuatu yang harusnya Elo dapatkan. That’s Life.

Karena diluar itu semua, dengan Trans Jakarta kamu juga mendapatkan AC, tempat duduk yang cukup nyaman, petugas Trans Jakarta di tiap bis yang membuat terasa aman, fasilitas wi-fi di beberapa shelter, dan pastinya perjalanan bisa relatif lebih cepat karena Trans Jakarta memiliki jalur sendiri dan mungkin ada beberapa hal lainnya. Kehidupan ? C’mon… Jangan bilang kehidupan elo isinya susah dan sedih terus, pasti ada dan banyak kenyamanan, kemewahan, pesta, hubungan pertemanan dan pekerjaan yang baik dan banyak hal positif lain yang Elo dapatkan dan syukuri.

Sekarang kita jabarkan poin ke 3: “Kehidupan Yang Penuh Perjuangan”, Angkutan yang masuk di kategori “Kehidupan Yang Penuh Perjuangan” ini sebenarnya tidak beda jauh dengan Angkutan yang masuk di kategori “Perjuangan” bedanya, angkutan yang masuk di kategori: “Kehidupan Yang Penuh Perjuangan” tingkat ketidaknyamanan-nya 3 kali lebih parah dari angkutan umum pada kategori “Kehidupan” tadi. Contohnya aja, kalau di Trans Jakarta kita mengalami desak-desak-an, di patas non AC di jam pulang kantor kita bukan desak-desak-an lagi tapi penyet-penyet-an begitu pula kalau di Trans Jakarta kita tidak menemukan pengamen atau tukang minta-minta, di Mikrolet dan Patas itu sering sekali pengamen, bahkan pengamen-nya kadang memaksa dan kasar atau yang relevan dengan kondisi sekarang, jika di Trans Jakarta kamu tidak terlalu terasa kalau hujan deras, bayangkan kalau kamu lagi hujan deras, terjebak macet parah, jalanan banjir, baru kepo twitter mantan yang baru jadian, kebelet pipis dan ELO LAGI DI BAJAJ! BAYANGKAN!

Begitu juga di kehidupan sehari-hari, ada kalanya kita mengalami sesuatu yang lebih berat dan keras dari pada biasanya. Misalnya: Diselingkuhin sama sahabat sendiri, di kantor sudah gaji kecil tapi disuruh lembur terus atau berada dalam kondisi dimana segala hal terasa tidak mendukung Elo bahkan cenderung memusuhi, semua hal terasa lebih sulit serta mengesalkan daripada biasanya dan membuat kita jadi hampir putus asa. Pasti kita terkadang mengalami hal tersebut kan ? Itulah, saat dimana kita tahu bahwa Tuhan menyuruh kita untuk berjuang lebih keras dalam menjalani kehidupan ini.

Setelah Gw sampe di rumah setelah bertemu Yuli dan berjuang di angkutan umum hari itu, entah kenapa gw masih teringat kata-kata si Yuli:

“Gw emang nggak tau jalan dan nggak tau dimana daerah rumah Gw, tapi yang penting Gw tau rumah Gw dimana.”

Dan Gw mendapat pencerahan dari kata-kata itu, sebuah pencerahan yang membuat Gw mensyukuri arti sebuah “rumah”, bukan hanya rumah sebagai pengertian tempat tinggal kita sehari-hari, namun juga “rumah” yang menjadi lambang dari suatu tempat dimana hati kita tinggal.

Seperti saat kita pulang kantor , macet, banjir dan memutuskan akan naik angkutan apapun bahkan yang “penuh perjuangan” sekalipun asal bisa sampe rumah.  Bahkan kata Yuli yang nggak tau daerah rumahnya dimana bahkan mungkin nggak perduli, yang penting nyampe rumah. Mau tadi ngalamin macet, mau daerah rumahnya banjir, yang penting nyampe rumah dan bersyukur untuk itu. Kenapa ? Karena, rumah adalah tempat kita merasa nyaman, tentram, hidup bebas dan merasa terlindungi.

Begitu juga dengan orang yang berjuang mengejar mimpinya, misalnya dalam karir. Saat orang tersebut sudah mencapai karir impian-nya, dia tidak akan peduli semua hambatan yang ada di kehidupan karir profesional nya itu atau bagaimana perjuangan lika-liku yang dia tempuh untuk mencapai impian-nya. Karena impian yang dia capai adalah “rumah” dari hati-nya saat ini.

Begitu juga orang yang menikah dengan orang yang dia cintai, dia akan lupakan semua hambatan, uang, waktu dan tenaga yang dia pakai untuk menggapai cinta sejatinya itu, dia juga tidak akan peduli jika orang yang dia cintai tersebut mungkin tidak se-keren, se-kaya dan se-pintar kekasih yang dimiliki orang lain. Karena dia tahu, seseorang yang dia nikahi itu sudah menjadi tempat tinggal dari hatinya.

Dan masih banyak contoh-contoh lain-nya, semua hal yang kita lakukan dan ingin capai dengan usaha dan doa sepenuh hati. Apapun itu. Jadikan itu “rumah” bagi hatimu.

===============================================================

Setelah merenungi kata-kata dari Yuli tersebut dan menuangkan-nya dalam blog ini, Gw sempat kebingungan untuk judul yang harus diberikan di post kali ini, sampai akhirnya Gw mengingat sinetron jaman dulu yang berjudul “Tuyul dan Mbak Yul” dan memplesetkannya menjadi “Tulus dan Mbak Yul”. Tentunya bukan karena Gw mirip tuyul ya (Secara! Gw kan mirip Rio Dewanto), namun karena mengingat di sinetron itu, Mbak Yul adalah manusia yang selalu memberi nasihat pada tuyul untuk menjadi tuyul yang baik. Begitu pula halnya yang dilakukan oleh Mbak Yuli Kade yang secara tidak sadar telah memberikan sebuah kalimat yang membuat Gw, Mikhael “Tulus” menjadi seseorang yang terinspirasi dan semoga jadi orang yang lebih baik.

nb: Tidak percuma, Yuli pacaran sama cowok-cowok yang kelakuan-nya minus, imbasnya jadi lumayan bijak dia. hahaha. *kabur*

Support Machine :)

Ditulis dalam Merenung, Modified by a true Dialog, Random Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Tanggalan
Januari 2013
S S R K J S M
« Des   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d blogger menyukai ini: