Ketika Bulu Hidungku Layu Sebelum Berkembang

Kemarin untuk pertama kalinya setelah sekian lama gw kembali naik metromini, karena ada hal urgent yang membuat gw merasa bahwa naik metromini adalah solusi yang sesuai untuk keadaan gw saat itu.

Tidak banyak yang berubah di keadaan metromini saat ini, masih sama saja, walau ya metromini yang gw naiki kebetulan tanpa kernet (tidak semua metromini begini kan?). Sehingga untuk membayar, sebelum turun kita harus jalan ke bangku supir lalu bayar. Jadi mungkin satu peningkatan yang gw lihat dari keadaan metromini saat ini adalah supirnya kini banyak yang multi-tasking, mereka bisa menyetir, mendengar aba-aba penumpang turun, menerima bayaran dan memberi kembalian secara bersamaan. Selain itu, sesekali jika ada penumpang yang mencoba kabur tidak mau bayar, si supir pun bisa juga jadi tukang pukul. Dan ya, supir metromini tak ada yang perempuan, eat that cewek-cewek yang merasa multi-tasking itu cuma berlaku untuk wanita !

*tekan gas 2 kali lae untuk merayakan selebrasi kecil ini* brummmm… brummmm

Selebihnya sama saja, metromini-metromini ini masih suka ngebut, suka ngetem, ngelanggar lampu merah, masih dicintai warga Jakarta dan masih banyak pengamen nya termasuk… pengamen dengan wujud anak punk. oi oi oi

Sedikit yang mau gw ceritakan disini adalah saat kemaren gw naik metromini lagi setelah sekian lama, metromini gw seperti biasa didatangi pengamen yang kebetulan saat itu adalah anak punk, 2 orang, seperti biasa tampil total dengan gaya punk nya, berkulit gelap, dekil dan sepertinya tidak mandi. Salah satu punkers yang mukanya lebih “surem” memakai semacam kaos singlet, anting di kuping yang membuat kupingnya memiliki lubang yang mengingatkan kita akan black hole di film Interstellar dan rambut berwarna merah seperti Mulan Jameela. Pengamen punker satunya bisa dibilang agak kerenan dibanding yang tadi, memakai jaket jeans dengan tato dan rambut berwarna putih pirang (Kalau dia lahir di Amerika mungkin kini dia jadi kayak Adam Levine).

Lalu si punker surem yang lebih talkative membuka omongan “Bapak-bapak, ibu-ibu mohon maaf menggangu perjalanan anda, kami mengamen disini lebih baik dari pada kami mencuri, menodong atau di rumah saja nonton Dangdut Academy (untuk yang terakhir gw tak terlalu yakin sih, abis dia ngomongnya juga buru-buru nggak jelas), kami mengamen ini hanya cari uang untuk makan, bapak-bapak, ibu-ibu! Jadi bantu kami”. Dan si punker yang satunya, yang kerenan, sepanjang si surem opening tadi cuma bilang “ya… ya… ya…”, jika di metromini ini ada Nina Tamam mungkin dia akan menyambut dan melanjutkan perkataan punker itu dengan bernyanyi “…Aku terima, dirimu jadi teman hidupku”.

Oh iya, gw lupa memberitahu, sepertinya kedua punkers ini diluar tampilannya, tampaknya mereka cukup religius, karena untuk mengamen kali ini mereka tidak menggunakan alat musik sama sekali, mereka hanya menggunakan sebuah alat musik terindah yang diberikan langsung oleh Tuhan, yaitu tepukan tangan. Tidak ada hal yang lebih indah dari sesuatu yang diberikan langsung oleh Tuhan bukan sodara-sodara ! Haleluya !

Lalu si punker surem seperti layaknya Beyonce di Destinys Child memutuskan maju meninggalkan rekannya sebelum bernyanyi, dimana dia pun akhirnya akan bernyanyi dari samping bangku gw, persis di samping gw. Disitu gw mulai merasa ada yang aneh, sebuah keanehan yang menyebalkan, karena saat itu gw mencium bau yang super busuk dari badan si pengamen, dan kenyataan dia memakai semacam kaos singlet made it worst.

Dia pun mulai bernyanyi dengan suara tidak bernada dan cenderung asal teriak, dan temannya tadi hanya tepuk tangan saja (sepanjang lagu dia tepuk tangan doang loh), mereka bernyanyi sebuah lagu bernuansa punk jalanan, entah apa, yang liriknya berisi kritik sosial, dan gw makin tidak bisa mencerna isi kata-kata di lagu tersebut karena gw sedang berusaha keras menahan nafas dari bau badan si pengamen punkers ini. Baunya itu ya, ada di level dimana aromanya bisa membuat bulu hidung layu sebelum berkembang dan jika bulu hidung itu bisa ngomong mungkin mereka request ke bagian HRD untuk pindah penempatan jadi bulu ketek.

Akhirnya mereka pun selesai bernyanyi, gw langsung mau sujud syukur rasanya, tapi lalu gw teringat kalau di AFI yang sujud syukur itu yang nyanyi bukan yang nonton. Dan gw pun urung melakukannya. Setelah itu, seperti layaknya strategi marketing public relation di industri hiburan kelas dunia, saat giliran ingin meminta bayaran dan membujuk penumpang agar mau menyisihkan uangnya, tugas itu diberikan pada orang yang memiliki fisik “oke”, dalam hal ini si pengamen punkers yang lebih keren yang melakukan tugas itu, bukan si punker surem bau badan. Well, ternyata pada saat meminta duit, gw mengetahui si punker yang kerenan ini, ternyata bau badan juga!

Dan singkat cerita, kalian mau tau berapa penumpang yang akhirnya memberi mereka duit ? Jawabannya: Tak ada satupun dari penumpang yang kasih duit. Gw ? Heloohhh… harusnya mereka kasih gw alat bantu oksigen, gimana kok malah ngarep gw kasih mereka duit ?!

What went wrong ? Coba kita lihat… (Good dan Bad things disini dilihat dari sisi marketing ala pengamen jalanan ya, bukan dari sisi baik-tidaknya apa yang mereka lakukan in general)

The Good Things:

  1. Mereka sudah berdandan cukup meyakinkan, meyakinkan dalam hal ini yakni mereka sudah berhasil terlihat seram dan layak dikasihani secara bersamaan.
  2. Mereka sudah opening dengan kata-kata yang cukup intimidatif
  3. Durasi perform pas, tidak kelamaan dan tidak terlalu menggangu
  4. Meminta si punker yang kerenan untuk meminta duit

The Bad Things :

  1. Lagunya nggak jelas (Banyak juga yang begitu toh? Tapi memang sih, pilihan lagunya tidak pas untuk karakter suara dia, dan mungkin harus dicari lagu yang bisa mereka nyanyikan secara duet. Itu menurut aku sih, nggak tau kalau menurut mas Anang)
  2. Tanpa alat musik (Mungkin saatnya mereka nyicil untuk ambil kelas les gitar di Yamaha Music School, atau ya belajar rebana lah sama ibu-ibu pengajian)
  3. Penumpang lagi nggak mood kasih duit, apalagi kemarin tanggal tua (ini pun asumsi)
  4. Si punker yang dapat tugas mintain duit tidak memberikan tatapan puppy eyes saat minta uang ke ibu-ibu (ELU KIRA TATAPAN PUPPY EYES GAMPANG ! ITU KAN BUTUH LES PRIVATE 8 PERTEMUAN SAMA NEIL PATRICK HARRIS !)
  5. BADAN ELO BAU BANGET, BRO !!!

Hmm… dari semua bad things yang dijabarkan menurut gw memang kesalahan mereka yang paling fatal itu di bau badan si lead vokal terutama yang nggak enak banget dan itu cukup menggangu loh. Harusnya mereka sebagai punkers mencontoh band-band punk yang sukses dan tajir seperti SID misalnya, mereka emang pas manggung badannya bau ? Nggak toh. Eno Netral bisa dapat bini model, dia punkers juga, emang dia bau ? Ngga toh. Nah harusnya mereka belajar dari situ, dan mengikuti trend omongan si Polwan dari NET TV, gw cuma mau bilang “Menyadari kenyataan mereka tidak belajar dari pengalaman punkers yang sudah sukses dan mencium baunya badan mereka, disitu kadang saya merasa sedih”.

Tapi sebenarnya jika mereka sedikit lebih cerdas, mereka bisa mengambil peluang dari bau badan mereka, yaitu dengan cara merubah kata-kata di opening. Ingat gak kata-kata mereka di opening ? Nih gw copy+paste dari atas:

“Bapak-bapak, ibu-ibu mohon maaf menggangu perjalanan anda, kami mengamen disini lebih baik dari pada kami mencuri, menodong atau di rumah saja nonton Dangdut Academy, kami mengamen ini hanya cari uang untuk makan bapak-bapak, ibu-ibu! Jadi bantu kami”

Sedikit yang bisa dirubah disitu ada di bagian “….kami mengamen ini hanya cari uang untuk makan bapak-bapak, ibu-ibu!”. Serius deh, “cari uang untuk makan ?”, hal itu udah tak dipercaya orang. Pengamen-pengamen ini kadang bilang cari uang untuk makan tapi bisa beli rokok, bisa buat tato, bisa ngecat rambut, bisa beli asesoris punk dll. Selain itu, suka-tak suka, kita harus ingat bahwa penduduk Jakarta ini egois like shit, mereka sering tak peduli akan hal yang tidak “ngefek” ke hidup mereka. Kalian belum makan? tapi penumpang emang merasakan kalian lapar ? Tidak kan. They won’t care. Kasihan mungkin, care ? I don’t think so.

Maka harusnya pengamen ini ganti kata-kata di opening itu dengan kata-kata yang bisa membuat penumpang merasa harus memberi uang karena keberadaan pengamen punkers ini “ngefek” buat mereka, dan ya mereka harus manfaatkan baunya badan mereka itu, karena terbukti bau badan itu dihirup para penumpang dan membuat mereka terganggu. Terganggu itu pun akan membuat penumpang jadi aware, sehingga mereka pun jadi care. Ngefek !

Jadi, inilah yang seharusnya jadi opening mereka sebelum ngamen :

“Bapak-bapak, ibu-ibu mohon maaf menggangu perjalanan anda, kami mengamen disini lebih baik dari pada kami mencuri, menodong atau di rumah saja nonton Dangdut Academy. Kami mengamen ini hanya cari uang untuk beli sabun supaya bisa mandi bapak-bapak, ibu-ibu! Jadi bantu kami.”

Semoga jika cara ini dilakukan, siapa tahu jadi makin banyak penumpang yang kasih uang untuk pengamen punkers ini.

Tapi selain cara di atas, mungkin untuk mendapat uang lebih banyak, mereka bisa mulai mengamen, bernyanyi dan berkesenian lebih berkualitas lagi, atau jika memungkinkan, semoga bisa kembali ke sekolah atau mencoba cari nafkah dengan cara yang lebih baik.

Ya bagaimanapun, semoga rejeki kita semua esok hari lebih baik ya! oi oi oi

“Bapak-bapak, ibu-ibu mohon maaf menggangu perjalanan anda, kami mengamen disini lebih baik dari pada kami mencuri, menodong atau di rumah saja nonton Dangdut Academy. Kami mengamen ini hanya cari uang untuk beli sabun supaya bisa mandi bapak-bapak, ibu-ibu! Jadi bantu kami.”

Support Machine :)

Ditulis dalam Komedi Sekitar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Tanggalan
Februari 2015
S S R K J S M
« Nov   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

%d blogger menyukai ini: